PENGELOLAAN DAYA TARIK WISATA BISEANG LABBORO’ DALAM PERSPEKTIF STAKEHOLDER

Oleh : Valentino, Riska, Firman

PENDAHULUAN

            Pariwisata merupakan sektor penting di Indonesia. Di Indonesia, ada 3 jenis daya tarik wisata yang dapat dikunjungi oleh wisatawan, diantaranya adalah daya tarik wisata alam, budaya dan buatan manusia. Untuk menunjang ketiga daya tarik wisata tersebut ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh pemerintah maupun pihak pengelola daya tarik wisata. Faktor tersebut adalah aksesibilitas, amenitas, akomodasi, atraksi wisata serta aktivitas yang nantinya akan dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung ke suatu daya tarik wisata. Pantai-pantai di Bali, tempat menyelam di Bunaken, Gunung Rinjani di Lombok dan berbagai taman nasional di Sumatera merupakan contoh tujuan wisata alam di Indonesia. Candi Prambanan dan Borobudur, Toraja, Yogyakarta, Minangkabau, dan Bali merupakan contoh tujuan wisata budaya di Indonesia. Sedangkan untuk daya tarik wisata buatan manusia di Indonesia adalah Trans Studio, Dufan, Bugis Waterpark, dll. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, sekitar 59% wisatawan mancanegara berkunjung ke Indonesia untuk tujuan liburan, sementara 38% untuk tujuan bisnis.  Singapura dan Malaysia adalah dua Negara dengan catatan jumlah wisatawan terbanyak yang dating di Indonesia dan wilayah ASEAN. Sementara dari kawasan Asia (tidak termasuk ASEAN) wisatawan cina berada di urutan pertama disusul Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan India. Jumlah pendatang terbanyak dari kawasan Eropa berasal dari Negara Inggris disusul oleh Belanda, Jerman dan Perancis.

            Sementara itu perkembangan pariwisata di Sulawesi Selatan mengalami penurunan kunjungan wisatawan, terhitung sejak Agustus 2015. Pada bulan Juli kunjungan wisatawan mencapai 1.194 orang sedangkan di Agustus hanya 1.115 orang sehingga mengalami penurunan sekitar 6,62%. Penyebabnya tidak lain adalah masih jarangnya kode etik / peraturan di setiap dtw, kurangnya bentuk-bentuk edukasi, manajemen pengunjung yang masih sangat kurang, kurangnya pemasaran dan promosi dari pemerintah, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang teknologi informasi, kurangnya peran serta stakeholder dalam menjaga atau membangun dtw, serta kurangnya kemitraan dan kerjasama antara pemerintah, pengusaha, stakeholder dan masyarakat sekitar.   Faktanya, Sulawesi selatan sendiri sudah merupakan satu provinsi dengan banyak kawasan wisata yang eksotis dimana eksotisme yang dimiliki Sulawesi Selatan tak kalah dengan yang ada di Provinsi-provinsi di Indonesia. Masalahnya, masih banyak wisatawan yang kurang pengetahuannya tentang pariwisata khususnya pariwisata yang ada di Sulawesi Selatan.

            Salah satu contoh daya tarik wisata di Sulawesi selatan yang jarang atau belum diketahui wisatawan adalah Wisata Biseang Labboro’ yang terletak di Kabupaten Maros. Biseang Labboro atau yang biasa dikenal dengan sebutan Bislab adalah kawasan wisata yang bisa digunakan untuk kegiatan petualangan yang menantang sekaligus mengasyikkan, karena dalam kawasan wisata ini terdapat banyak sekali atraksi serta banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini. Namun masih banyak yang harus diperhatikan dalam mengembangkan daya tarik wisata ini, mulai dari fasilitas yang perlu ditambahkan, kurangnya promosi dan pemasaran terhadap dtw ini, tidaknya adanya peran stakeholder dalam mengembangkan dtw ini sehingga menyebabkan dtw ini tidak terawatt,  hingga papan penunjuk yang menandakan adanya daya tarik ini.

PEMBAHASAN

Biseang Labboro’ atau yang biasa dikenal dengan sebutan Bislab adalah kawasan wisata yang bisa digunakan untuk kegiatan petualangan yang menantang maupun mengasyikkan, karena dalam kawasan wisata ini terdapat banyak sekali objek wisata yang menunjang kegiatan semacam itu. Diantaranya yaitu terdapat kawasan hutan, kawasan sungai, kawasan tebing, dan juga kawasan gua alam. Kawasan-kawasan inilah yang biasa dijadikan pegunjung untuk aktivitas yang sangat menantang seperti camping (kemah), bisa juga caving (telusur gua), arung jeram. Bisa juga digunakan untuk berfoto di alamnya yang sangat indah nan eksotis dan yang terakhir biasanya tempat ini dijadikan tempat pendidikan dan latihan dasar untuk berbagai maam organisasi yang telah melakukan perekrutan.

Biseang Labboro’ atau bislab konon katanya adalah sebuah legenda dimana pada zaman dahulu ada seorang saudagar dari Cina yang datang kesini hanya untuk melamar gadis dari Samangki yang ditaksirnya. Akan tetapi, lamaran saudagar tersebut ditolak, akhirnya saudagar itupun malu dan dia sengaja mengkaramkan kapalnya di daerah tersebut, sehingga sekarang kapalnya pun membatu atau sudah menjadi fosil. Dari kapal yang membatu itu, tempat tersebutpun dinamakan Biseang Labboro’ yang merupakan bahasa Makassar adalah kapal yang terdampar.

Selain sebagai wisata alam, Biseang Labboro’ juga dapat dijadikan sebagai wisata edukasi. Wisata edukasi mempunyai pengertian sebagai suatu kegiatan atau perjalanan yang dilakukan untuk tujuan rekreatif dengan lebih menonjolkan unsur pendidikan. Seperti yang telah disebutkan tadi, banyak hal yang bisa dilakukan di daya tarik ini khususnya dalam bidang pendidikan, diantaranya latihan dasar kepemimpinan, sebagai tempat obervasi dan konservasi, serta sebagai bahan penelitian bagi mahasiswa maupun peneliti. Banyak hal yang bisa diteliti di Biseang Labboro’ seperti habitat flora yang ada di sana. Di sana juga terdapat penangkaran Tarsius yang merupakan hewan endemik dari Sulawesi Selatan, yang bisa dijadikan sebagai bahan penelitian.

Selain itu, di lihat dari sistem kemitraannya, daya tarik wisata ini masih belum bekerja sama dengan dinas pariwisata, sehingga promosi dan pemasaran yang dilakukan masih sangat kurang, hal ini menyebabkan masih kurangnya wisatawan yang mengetahui tentang keberadaan daya tarik wisata alam ini. Maka dari itu Direktorat Jenderal Taman Nasional Bantimurung – Bulusaraung bekerja sama dengan salah satu pihak swasta. Dalam hal ini pihak swasta membantu dalam menambahkan fasilitas serta aktivitas seperti arung jeram, river boarding, river tubing, outbond, dll. Hal ini juga secara tidak langsung membuat daya tarik wisata alam Biseang Labboro’ semakin dikenal oleh masyarakat melalui promosi yang dilakukan oleh pihak swasta tersebut.

Namun sangat disayangkan, daya tarik wisata alam yang memiliki potensi yang sangat besar ini tidak didukung dengan fasilitas-fasilitas yang memadai, seperti masih kurangnya kode etik atau larangan-larangan untuk menjaga dan melestarikan serta tidak merusak lingkungan alam di sekitar dtw Biseang Labboro’ ini. Maka dari itu pengelola setempat harus menambahkan kode-kode etik untuk wisatawan, berupa larangan-larangan serta mengajak wisatawan untuk menjaga lingkungan sekitar di DTW Biseang Labboro’.

Oentoro (2010:21) menyatakan bahwa Promosi adalah salah satu faktor yang diperlukan bagi keberhasilan dan strategi pemasaran yang diterapkan suatu perusahaan terutama pada saat ini ketika era informasi berkembang pesat, maka promosi merupakan salah satu senjata ampuh bagi perusahaan dalam mengembangkan dan mempertahankan usaha.

Tujuan  promosi menurut Simamora (2001:754) ada beberapa alasan para pemasar melakukan promosi :

  1. Menyediakan informasi

Pembeli dan penjual mendapat manfaat dari fungsi informasional yang sanggup dilakukan oleh promosi. Para pembeli menemukan program baru yang dapat membantunya dan para penjual dapat menginformasikan kepada calon pelanggan tentang barang dan jasa.

  1. Merangsang permintaan

Para pemasar menginginkan konsumen membeli produknya dan mereka menggunakan promosi untuk membuat konsumen melakukan permintaan.

  1. Membedakan produk

Organisasi-organisasi mencoba membedakan mereka dan produknya melalui penggunaan promosi, khususnya produk yang tidak banyak berbeda dari para pesaingnya.

  1. Mengingatkan para pelanggan saat ini Mengingatkan para pelanggan akan manfaat dari produk perusahaan bisa mencegah mereka berpaling kepada pesaing pada saat mereka memutuskan untuk mengganti atau memutakhirkan produknya.
  2. Menghadang pesaing Promosi dapat digunakan untuk menghadapi upaya pemasaran dari pesaing untuk melawan kampanye periklanannya.
  3. Menjawab berita negatif Kadangkala kompetisi bukanlah penjualan produk serupa dan perusahaan lainnya. Seringkali perusahaan menjadi korban publisitas dan pemalsuan
  4. Memuluskan fluktuasi-fluktuasi permintaan Perusahaan bnayak mengalami tantangan-tantangan permintaan musiman, dimana para pelanggan membeli lebih banyak selama beberapa bulan tertentu dan berkurang pada bulan-bulan lainnya. Promosi membantu mengisi kesenjangan yang ada diantara kepincangan-kepincangan permintaan musiman tersebut.

Biseang labboro mempunyai potensi wisata alam yang cukup baik, akan tetapi sangat disayangkan karena pemasaran dan promosi yang kurang berhasil di daya tarik wisata ini. Menurut masyarakat setempat kebanyakan bentuk promosi yang ada di daya tarik wisata ini hanya melalui sebatas informasi dari setiap wisatawan yang telah mengunjungi Biseang Labboro . Akan lebih baik apabila dilakukan promosi yang lebih efektif  agar masyarakat mengetahui adanya daya tarik wisata ini yang memiliki keindahan alam yang asri dan sungai yang memiliki arus yang cukup deras sehingga selain dapat berenang wisatawan dapat melakukan aktifitas rafting dan river tubbing disungai Biseang laboro. Akan tetapi, promosi yang efektif dapat dilakukan melalui media cetak, promosi ini biasanya dilakukan dilakukan dengan membuat spanduk, banner, iklan di koran, majalah, membuat brosur, sticker, pamphlet, flyer dan lain-lain. Media sosial , adalah promosi paling baik digunakan untuk mempromosikan berbagai keberadaan Daya tarik wisata ini maupun informasi – informasi umumnya. Media online ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya pengguna internet dijaman sekarang ini khususnya dikalangan remaja yang memiliki minat lebih untuk melakukan sebuah perjalanan wisata . Promosi melalui media online ini biasanya melalui website resmi, blog, serta postingan-postingan wisatawan yang telah mengunjungi secara tidak langsung wisatawan dapat membantu mempromosikan Daya tarik wisata Biseang Labboro. Selanjutnya promosi  media elektronik, media elektronik juga menjadi salah satu cara ampuh untuk melancarkan  promosi suatu produk khususnya informasi suatu Daya tarik wisata. Dengan menggunakan  berita yang disiarkan di TV, maupun informasi melalui radio. Upaya promosi ini sangat membantu dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di Biseang Labboro ini. Akan tetapi aktifitas yang dapat dilakukan di biseang labboro ini masih sangat kurang sehingga menyulitkan untuk menarik minat pengunjung, sehingga akan lebih baik lagi apabila stakeholder berperan aktif dalam pengelolaan serta pengembangan Daya tarik wisata Biseang Labboro yang memiliki potensi yang cukup baik.

Biset (1998) secara singkat mendefenisikan stekeholder merupakan orang dengan suatu kepentingan atau perhatian pada permasalahan. Stakeholder ini sering diidentifikasi dengan suatu dasar tertentu sebagimana dikemukakan Freeman (1984), yaitu dari segi kekuatan dan kepentingan relatif stakeholder terhadap issu, Grimble and Wellard (1996), dari segi posisi penting dan pengaruh yang dimiliki mereka.

Ghazali dan Chariri (2007:409) berpendapat bahwa,  Teori Stakeholder merupakan teori yang menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingan sendiri, namun harus memberikan manfaat kepada seluruh stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain). Kelompok stakeholder inilah yang menjadi bahan pertimbangan bagi manajemen perusahaan dalam mengungkap atau tidak suatu informasi di dalam laporan perusahaan tersebut. Tujuan utama dari teori stakeholder adalah untuk membantu manajemen perusahaan dalam meningkatkan penciptaan nilai sebagai dampak dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan dan meminimalkan kerugian yang mungkin muncul bagi stakeholder.

Meskipun stakeholder theory mampu memperluas perspektif pengelolaan perusahaan dan menjelaskan dengan jelas hubungan antara perusahaan dengan stakeholder, teori ini memiliki kelemahan. Gray et al (1997) mengatakan bahwa kelemahan dari stakeholder theory terletak pada fokus teori tersebut yang hanya tertuju pada cara-cara yang digunakan perusahaan dalam mengatur stakeholder-nya. Perusahaan hanya diarahkan untuk mengidentifikasi stakeholder yang dianggap penting dan berpengaruh dan perhatian perusahaan akan diarahkan pada stakeholder yang dianggap bermanfaat bagi perusahaan. Mereka yakin bahwa stakeholder theory mengabaikan pengaruh masyarakat luas (society as a whole) terhadap penyediaan informasi dalam pelaporan keuangan (Ghozali dan Chariri, 2007:411).

Bisseang labboro merupakan salah satu daya tarik wisata yang berada dalam Pengawasan Dinas Kehutanan dan Balai Taman Nasional Bantimurung. Jika dilihat dari seberapa besar peran stakeholder terkait hasil observasi yang dilakukan mengenai pengelolaan di Daya tarik wisata Biseang labboro ini, peran stakeholder hanya sampai pada tahap pemberian beberapa fasilitas berupa jalan setapak, gazebo, toilet dan pos – pos persinggahan. Selain pemberian fasilitas, pihak pengelola juga turut serta dalam pelestarian hutan dengan menerapkan pelarangan penebangan pohon secara ilegal. Adapun peran serta masyarakat sekitar dalam pengelolaan dan pengembangan daya tarik wisata ini seperti tersedianya warung- warung disepanjang jalan masuk Biseang Labboro dan beberapa di pinggiran sungai biseang labboro itu sendiri. Masyarakat membuka warung-warung kecil bagi para pengunjung yang ingin makan dan minum usai beraktifitas, dari hasil wawancara terhadap penduduk setempat juga salah satu pemilik warung yang berjualan di sekitar pinggiran sungai, diperoleh informasi bahwa mereka tidak hanya sekedar berjualan disekitar biseang labboro namun mereka juga turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan seperti memangkas rumput-rumput yang sudah lebat serta membersihkan sampah-sampah yang menumpuk. Peran serta penduduk sekitar ini sekiranya dapat ditunjang dengan bantuan dari pengelola berupa perawatan dan penambahan fasilitas di Biseang Labboro itu sendiri, sehingga pengembangan daya tarik wisata Biseang Labboro ini dapat dikatakan maksimal.

Pariwisata berbasis teknologi informasi ini dilakukan dengan menyedian website khusus pariwisata Indonesia pada tingkat pusar dan diteruskan kedaerah dan pengelola suatu kaawasan wisata, website ini kemudian memberikan informasi berupa objek-objek wisata yang dimiliki tiap-tiap daerah, sarana dan prasana pelengkapnya, akomodasi, transportasi, keunikan budaya dan tradisi local serta karya khas daerah serta system informasi geografi tiap objek wisata. Dengan tersedianya website khusus pariwisata dengan informasi yang rinci, akurat disertai dengan visualisasi dan detail kondisi kawasan maka wisatawan akan menjadi faktor penarik wisatawan untuk mengunjungi satu daerah, kawasan ataupun objek wisata. Teknologi informasi dalam menunjang jalannya pariwisata sangat penting seperti informasi tentang daya tarik wisata alam Biseang Labboro’ yang sudah lumayan dalam memberikan informasi. Adapun pihak-pihak yang terkait dalam menunjang jalannya pariwisata dalam memberikan informasi seperti pihak pemerintah, swasta, maupun masyarakat setempat. Contohnya pihak pemerintah kabupaten maros yang harus berupaya dalam memberikan informasi tentang daya tarik wisata alam biseang labbro’. Jika pemberian informasi telah jelas maupun akurat maka daya tarik wisata alam biseang labbro’ dapat dipromosikan atau dijual ke wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara dan pemerintah kabupaten maros juga hendaknya berupaya dalam mempromosikan biseang labboro ini.  Sehingga wisatawan sebelum datang berkunjung tau akan daya tarik wisata alam ini, promosi yang dilakukan oleh pihak terkait harus menyeluru seperti promosi melalui media cetak contohnya brosur dan media elektronik seperti internet.

Selain itu, perlu promosi dari mulut ke mulut antar wisatawan juga sangat membantu peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke daya tarik wisata alam biseang labboro. Adapun Perkembangan teknologi informasi terutama di Indonesia semakin berkembang. Dengan peranan Teknologi Informasi ini, maka dapat memudahkan kita untuk memperkenalkan daya tarik wisata yang ada di Indonesia terlebih di Kabupaten Maros . Dalam dunia pariwisata perkembangan teknologi informasi mulai dirasakan dampak positifnya karena dengan berkembangnya teknologi informasi dunia pariwisata mulai memperlihatkan perubahan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, sudah Banyak hal yang sudah berbeda dan berubah dibandingkan dengan cara sebelumnya. Karena para wisatawan sangat mudah untuk menentukan daya tarik wisata yang akan ingin dikunjunginya seperti daya tarik wisata alam biseang labboro’.

Selain itu, manajemen pengunjung yang biasa dikenal VMO (Visitor Management Organization) yaitu suatu kegiatan untuk mengelola pengunjung yang datang ke suatu obyek wisata sehingga memberikan manfaat. Dalam manajemen pangunjung terdapat dua elemen dasar seperti: mencapai keseimbangan antara kebutuhan dan persyaratan dari obyek wisata dan pengunjung, Menjadi bagian penting dalam pengembangan dan pengelolaan suatu obyek wistata. Pada intinya, manajemen pengunjung merupakan peluang untuk mempengaruhi pergerakan pengunjung, memenuhi kebutuhan pengunjung, mendorong penyeberan kunjungan secara merata dan memberikan pengalaman wisata yang terbaik. Penerepan manajemen pengunjung hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan obyek wisata dan wisatawan.

Adapun dua cara menerapkan manajemen pengunjung sebagai berikut : cara keras (hard measure), yaitu memaksa pengunjung untuk bertingkah laku sesuai dengan keinginan pengelola obyek wisata dengan cara Menutup sebagian atau seluruh area wiasta untuk perbaikan dan perawatan, Memperketat waktu kunjungan di obyek wisata, Memperkenalkan konsep parkir jemput (park and ride), Memperketat perpakiran, lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki, Menciptakan konsep zonasi,Memberlakukan pembayaran tiket masuk ke area wisata, Menggunakan strategi diskriminasi harga dan cara lunak (soft measure), yaitu memotivasi pengunjung untuk bertingkah laku sesuai dengan keinginan pengelola obyek wisata dan masyarakat dengan cara Aktivitas promosi, terutama sebelum dan sesudah kunjungan dengan menawarkan paket kunjungan lebih dari satu hari untuk sasaran tertentu dengan tujuan meningkatkan kesadaran pengunjung, Penyebaran informasi sebelum dan saat kunjungan bertujuan membantu pengunjung merancang perjalanan wisata dan mendorong kunjungan ke daerah yang kurang populer sehingga penyebaran kunjungan merata, menyediakan jadwal dan pemandu wisata guna meringankan kepadatan pengunjung pada titik-titik daya tarik tertentu; dan memberikan saran untuk kunjungan pada musim sepi guna mendapatkan pengalaman wisata yang optimal dan mengurangi kemacetan kendaraan serta pengunjung, Interpretasi, yakni mendorong apresiasi dan pengetahuan tentang suatu daerah wisata sehingga menimbulkan pemahaman terhadap konservasi dan masalah lingkungan, Interpretasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya personal attended services, ketika pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan interpreter, seperti tur yang dibimbing (conducted tour),  presentasi pada waktu-waktu tertentu, dan demontrasi atraksi wisata, Penggunaan papan penunjuk untuk mengarahkan pengunjung sesuai dengan jalur wisata untuk menghindari pengrusakan, mengurangi kemacetan lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki, meminimalisasi konflik antar pengunjung, menarik perhatian wisatawan ke daerah yang kurang populer, dan memastikan pengunjung dapat mencapai obyek wisata cepat dan aman. Telah dipaparkan terlebih dahulu mengenai manajemen pengunjung atau yang bias dikenal VMO (Visitor Management Organization) dan selanjutnya, penulis akan membahas mengenai manajemen pengunjung yang ada di daya tarik wisata alam biseang labboro seperti yang penulis lihat langsung ketika melakukan observasi ke daya tarik wisata alam tersebut masih kurangnya fasilitas seperti sign board, papan peringatan, maupun alat keselamatan untuk wisatawan yang hendak berkunjung dan disinilah peran pemerintah, swasta maupun masyarakat setempat  sangat ambil adil dalam mengelola daya tarik wisata alam biseang labbro’. Maka dalam manajemen pengunjung itu sendiri hendaknya di daya tarik wisata alam biseang labboro ini juga dilakukan pengembangan yang dapat menggunakan konsep wisata edukasi yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung dan  juga tidak mengurangi nilai-nilai pengetahuan yang ada di dalam daya tarik wisata alam biseang labboro ini. Dan tidak hanya itu wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung ke biseang labboro’ hendaknya tidak merusak atau mencoret-coret dan membuang sampah sembarangan di daya tarik wisata alam biseang labboro ini tetapi, wisatawan hendaknya menjaga kelestarian yang ada di biseang labboro’. Adapun motivasi pengunjung dalam melakukan perjalanan wisata yaitu menurut Purba (1985), menegaskan motivasi pengunjung pada hakekatnya akan timbul 5 kelompok kebutuhan, yaitu (1) adanya daya tarik ; (2) Angkutan dan jasa kemudahan yang melancarkan   perjalanan   ;   (3)   Perjalanan; (4) akomodasi ; (5) Makanan dan minuman.

REFERENSI

Griffindors, Abdhi. 2015. Aneka wisata nusantara. Wisata alam biseang labboro’ maros. Diakses pada tanggal 2 Juni 2016 melalui http://anekawisatanusantara.blogspot.com/2015/03/wisata-alam-biseang-labboro-maros.html

Morrison, A. 2012. Destination Management and Destination Marketing : The Platform for Excellence in Tourism Destinations

Damanik, Ericson. 2016. Pengertian, tujuan dan manfaat kemitraan menurut ahli. Diakses pada tanggal 2 Juni 2016 melalui http://pengertian-pengertian-info.blogspot.co.id/2015/05/pengertian-tujuan-dan-manfaat-kemitraan.html

Bachri, Thamrin. 1995. Pariwisata gagasan dan pandangan.

Cooper., Fletcher., dkk. 1999. Kepariwisataan. Jakarta. Bagian proyek penerjemahan dan penerbitan buku-buku pariwisata.

Ismayanti. 2010. Pengantar pariwsata. Jakarta: Kompas Gramedia.

Oentoro, Deliyanti. 2010. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta : LaksBang PRESSindo

Diakses pada tanggal 30 mei 2016 melalui http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-promosi-definisi-tujuan.html

Freeman, R. Edward. (1984). Strategic Management: A Stakeholder Approach. Boston: Pitan diakses pada tanggal 30 mei 2016 melalui http://teguhpw335.blogspot.co.id/2015/04/definisi-publik-dan-stakeholder.html

Ghozali, Imam dan Anis Chariri. 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Diakses pada tanggal 30 mei 2016 melalui http://accounting-media.blogspot.co.id/2015/03/teori-stakeholder.html

Gray, dkk 1997. Manajemen Proyek. LPFE Universitas Indonesia. Diakses pada tanggal 30 mei melalui http://accounting-media.blogspot.co.id/2015/03/teori-stakeholder.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s